Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
0

antara dia dan kata “kembali”

Sebahagian waktuku hilang, ini benar benar menghilang…
ntah di mana,tapi aku mencoba untuk tenang..
tenang,dan tenang ,sampai suatu saat dia datang..
bukan sebagai bintang ,yang menyentuh ku dengan begitu terang..
juga bukan bulan ,yang melihatku dengan sangat benderang…
dia hanya menyapa,tapi itu terlihat tak biasa.
Dan Aku juga mencoba menyapa dia, tapi itu yang tak ku bisa.
Atau Mungkin belum ku coba.
Aku bukan berjalan tanpa mata.
Aku melihatnya ,sungguh melihatnya.
dia bukan hanya sekedar cerita.
Dia nyata.dan dia ada..
Dan kini dia tiada..
benar,,,memang benar dia hanya menyapa.
Tapi aku merasa,dia ada walau pun tiada.
Andai dia kembali ,aku ingin lahir seperti..
Seperti daun,yang berjatuhan di taman yang mencoba untuk menenang kan,
Andai dia kembali ,aku ingin lahir seperti .
Seperti badut yang mencoba menghibur walau melelahkan.
Andai dia kembali,aku ingin lahir seperti.
Seperti merpati yang selalu setia dan tak tergoyahkan.
Tapi seandainya dia tak akan pernah kembali?
Mungkin aku akan lahir seperti ikan,yang mudah untuk melupakan.
Atau Mungkin juga aku akan lahir seperti penyair yang tetap mencintai walaupun di lupakan.
Apakah kata kata “kembali” terlalu jauh bagimu?
Apakah raut wajahku terlalu mudah untuk dihapuskan olehmu?
“Tersenyumlah” mungkin itu yang akan kau ucapkan.
Tapi tidak, aku tidak bisa. semua telah hilang sesaat kau menghilang.
Namamu adalah senyuman , sentuhan mu adalah kenangan.
Dan bagai mana bisa aku terbiasa..
Tapi…terimakasih atas waktu yang begitu singkat..
Kau merubah perjalanan ku yang semestinya berat.
Aku tau di dalam hati ini namamu akan menjadi pekat,dan tambah pekat .
Terimakasih…
dan aku tersenyum ….
puisi.org
read more
0

Ketika Mata Ketemu Mata

1/
Aku turun dari angkot, masuk ke dalam kompleks perumahan tempat kakakku tinggal. Setelah pertigaan kedua, aku berbelok ke kiri dan berjalan sedikit ke tengah. Dan tiba-tiba mobil Trooper hitam itu berhenti mendadak di depanku.
Aku bisa dengan jelas menatap lelaki yang duduk di belakang kemudi itu. Dan aku yakin ia pun bisa melihatku dengan jelas dari dalam. Mata kami saling beradu.
Aku berpikir cepat dalam waktu sedetik itu. Apakah aku harus melangkah ke samping dan memberinya jalan? Ataukah tetap berdiri dihadapan mobil itu dan membiarkan ia melajukan mobilnya?
2/
Aku melihat wanita itu di kereta ekspres. Pertama kali melihatnya, aku pikir ia seekor anak kucing yang imut, manja dan kinyis-kinyis. Setelah aku mendekatinya, ia sudah menjelma menjadi wanita yang jungkir balik mencari biaya untuk menghidupi keluarganya.
3/
Aku mengenal lelaki itu di kereta ekspres juga. Bercakap-cakap setiap pagi. Kupikir ia seorang lelaki yang baik dan kepala rumah tangga yang bertanggung jawab. Tetapi aku kurang suka kalau ia sudah berbicara tentang barang-barang bermerek yang ia kenakan. Mungkin ia butuh dipuji, sementara aku tidak pernah memuji penampilan seseorang.
4/
Aku memperkenalkan keduanya. Namun seperti kata pepatah, kalau sedang jatuh cinta, jangan jalan bertiga, karena orang ketiga akan menjadi setan.
Pengkhianatan memang selalu datang dari orang dekat. Aku tidak tahu pada saat mana ia menelikungku. Ada wanita yang membutuhkan banyak uang, ada pria yang punya banyak uang. Dan tiba-tiba mereka menghilang seperti bayangan ditelan kegelapan.
5/
Hingga akhirnya kabar angin itu berhembus kencang dan menjadi nyata ketika aku harus menjawab pertanyaan istri lelaki itu. “Apakah wanita ini teman Mas?” katanya bertanya sembari menyorongkan sebuah foto wanita cantik.
Aku tidak mengelak dari pertanyaan itu. Dan setelah itu diikuti serentetan pertanyaan lainnya. Kulihat mata ibu itu basah.
6/
Hidup kadangkala seperti kita membuka pintu. Buka pintunya, masuklah ke dalam dan lupakan bahwa pintu itu pernah ada. Kita tidak bisa memutar balik jarum waktu. Tetapi kita bisa saja bertemu kembali dengan masa silam di masa depan. Siapa yang tahu?
7/
Suatu pagi, masa silam itu ada di dalam angkot bersamaku. Kami sama-sama turun di terminal. Lelaki itu masih sempat bertanya dengan muka manis,”Apa kabarnya? Sudah lama ya kita tidak bertemu?”
Aku menatapnya dingin. Aku yakin aku masih bisa memukulnya jatuh saat itu juga. Namun aku memutuskan untuk tidak melakukannya. “Anda salah menegur orang, saya tidak kenal anda.” kataku singkat dan meninggalkannya.
8/
Dan pagi itu, kembali aku bertemu dengannya. Mata ketemu mata.
Aku menatapnya, sementara ia tetap duduk di dalam Trooper hitamnya. Entah berapa lama. Sampai akhirnya aku melangkah ke samping kiri perlahan-lahan, tanpa melepaskan pandanganku padanya. Mobil melaju perlahan, ia setengah menunduk saat melewatiku.
9/
Apa yang kita dapatkan sekarang adalah hasil dari masa silam, dan apa yang kita lakukan sekarang akan menentukan seperti apa kita di masa depan.
Apa yang kita lihat, apa yang kita perlihatkan, tidak lain hanyalah suatu mimpi dalam mimpi.
Jakarta, 27 Juli 2010
Urip Herdiman Kambali
http://www.theurhekaproject.blogspot.com
read more
Back to Top